Posted by: sepanjanglempong | August 29, 2008

1 Oktober 1965

Sejarah memang milik seseorang yang berkuasa,
begitu yang diingatkan oleh Sultan HB IX kepada assitennya
ketika sang assiten melaporkan SU 11 Maret dikatakan diprakarsai oleh Suharto
semakin kelihatan Suharto hanya mengulang sejarah kekeliruan Sukarno
membangun monumen kekuasaan setinggi-tingginya
untuk melanggengkan kekuasaan,Di Kompas kemarin ada tulisan nan menarik
mengapa Sukarno sangat dekat dengan PKI
gerakan Gayang Malaysia yang dimulai karena demo demo di KBRI
dengan merusak simbol simbol negar seperti gamabr garuda dan presiden
membuat Sukarno marah …
PKI-lah yang paling mendukung konfrontasi terbuka dengan Malaysia
demikian juga AU
AD terpecah menjadi dua Nasution tetap setia kepada Sukarno
Amad Yani setengah setengah apalagi melihat Inggris di belakang Malaysia
tentunya tidak mudah mengadakan konfrontasi
memang dari dulu Ahmad Yani tidak menyetujui angkatan kelima kaum buruh dipersenjatai
dalam keadaan begini PKI memilih proaktif mengambil sikap
menghakimi mereka yang tak loyalis yang disebut : Dewan Jendral itu
pantaslah suka disebutk konflik internal dalam tubuh AD
( tapi analisa ini juga menyulitkan kenapa Nasution juga menjadi sasaran ? )
kita memahami kenapa Sukarno susah sekali membubarkan PKI …

melihat ke belakang lagi hubungan Suharto – Yani
karena ketiak Tommy kesiram air pansa di RSPAB Gatot Subroto toh
sudah dilapori ada gerakan oleh Kol. Latief
tapi beliau malah diam membisu
tak banyak yang tahu Suharto pernah mendapat teguran halus
karean ketika menjadi Pangdam Diponegoro di Jawa Tengah berbisnis
sehingga dia “disekolahkan” oleh Ahmad Yani ke Bandung
bentuk halus dari penyingkiran dari jalur komando
yang sangat didambakan setiap perwira militer tentunya

Suharto dengan pandangannnya pembangunan ekonomi tanpa politik
jelas jelas sering dikemukakan di perbagai kesempatan
adalah penafsiran yang keliru atas Order Lama
dikemudian hari kita lihat malah membangun budaya buruk
dengan menguatkan militer ke setiap sendi kehidupan
mengatasnamakan Demokrasi Pancasila
yang hingga kini terasa adalah budaya korupsi
yang dimulai dan dominasi oleh AD dan kelaurganya
mungkin ini menjadi dosa kedua setelah genocoide mengerikan itu
bayangkan hingga kini kita menjadi nomer wahid
dan susah kembali bangkit setelah krisis ekonomi
karena budaya ini …

meluruskan sejarah memang pekerjaan besar
tapi tanpa pelurusan ini bagaimana mengajarkan yang benar
berarti kita menyimpan kebohon besar yang diskenariokan
oleh satu orang yang berkuasa saja ?
sungguh mengerikan …
Hanya orang pandai dan bijak saja melihat apa dibalik perubahan
tidak demikian dengan rakyat kebanyakan
kalau waktunya pendek mungkin gampang seperti kasus Akbar Tanjung

yang menarikl semua buku yang memuat penamaan dirinya
di suatu sekolah di Depok di buku sejarah untuk SMA yang memuat skandal Bulog
tapi kalau sudah 30 tahun ?

Tentang pembunuhan besar besaran ini saya merinding sekali
masih ingat novel terakhir Agatha Christi : Tirai yang pembunuhnya hanya bermodal
kekuatan persuasif sehingga mampu menggerakkan orang lain untuk membunuh
hingga Hercule Poirot putus asa terpaksa menembak sendiri sanag pembunuh
sesuatu yang tak pernah dilakukan sebelumnya,
maksudku sesorang yang berkuasa itu tahu betapa
golongan kiri dan kanan bermusuhan memiliki potensi perang terbuka
diledakkan … dikomendani oleh militer : bangsa yang diadu
di kemudian hari golong kanan perlahan dan pasti juga disinggkirkan
masih ingat ketika akhir kekuasaan Kristen dan Islam berbunuhan di Ambon
setelah 900 preman dari Jakarta berangkat ke Ambon
aku menangis untuk rakyat yang dibohohi
hanya untuk menunjukkan bahwa militerlah satu satunya balance of power

Burma yang jelas meniru mewarisi pemerintahan ala Indonesia
menembak wartawan Jepang dan memukuli para biksu
tapi toh Amerika tak tertarik untuk menegakkan demokrasi
seperti di Irak yang kaya minyak itu ?
aku jadi inagt nahesat ayahku yang membosankan
dan suka diparadikan oleh Katia setiap cucuny sujud Lebaran
” Ora ana wong bodho,
sing ono wong males,
wong bodho iku dadi pakane wong pinter …”
( tidak ada orang bodoh yang ada orang malas
dan orang bodoh itu menjadi santapan orang pandai )

saya jadi termenung
petuah petuah Sunan Kalijaga tentang kekuasaan
ternyata masih relevan sampai kini

Semoga tak terulang lagi kebohonan massal ini
yang ditindaklanjuti dengan pembunuhan terencana sebegini banyaknya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: