Posted by: sepanjanglempong | August 28, 2008

Sekilas Membaca dan Menonton Ayat-Ayat Cinta

Publik Indonesia digegerkan dengan fenomena Ayat-Ayat Cinta ( AAC ).
Konon film yang baru diputar 2 minggu sudah menarik 3.000.000.000 penonton,
dan hingga Malam minggu kemarin saya menonton masih penuh sesak
hingga ke kursi depan. Tidak itu saja, tanggapan penonton cukup menarik
banyak Kaum Hawa keluar dengan mata yang sembab sisa menangis.
kadang beberapa kaum Adam juga menjadi mbrebes. terharu

Sebagai buku bookseller telah lama saya beli namun karean provokasi ketenaran
baru kemarin saya sempatkan membaca setelah istri terlebih dahulu menyelesaikan.
Penulisnya orang Semarang yang masih muda kelahiran 1976 , Habiburrahman El Shirazy seorang sarjana universitas Islam bergengsi di dunia : Al Azhar di Cairo, Mesir.
Novel ini diselesaikan di bulan Oktober 2003. Sejak diterbitkan pertama kali Desember 2004 telah mengalami cetak ulang sebanyak 14 kali. Sungguh sebuah prestasi.

Beruntung saya membaca novelnya sebelum menonton filmnya.
Film memiliki kemampuan yang luar biasa untuk memasyarakatkan sebuah karya
karean sebuah media audio visual dan mudah dinikmati.
Dengan tiket 15 ribu kita bisa menonton di teater 21 film berdurasi 2 jam itu.
Tidak demikian denagn membaca butuh kesabaran.
Namun asyiknya membaca seperti kita tahu imajinasi kita tak terkungkung,
juga penggambaran detail cerita tertulisi jeli bisa kita nikmati.

Menurut saya , sebetulnya kehebatan novel ini menjelaskan secara indah bagaimana sebuah sebuah ajaran luhur agama bisa dijelaskan yang kadang jadi polemik, yakni poligami. Sebuah masalah yang orang dewasa saja tanpa pemahaman agama ( Islam )
yang mendalam akan sukar menerimanya. Dan dunia di luar Islam cenderung
kadang, maaf merendahkan ketimbang coba memahami.

Poligami di cerita diusulkan oleh sang istri tercinta ketika menyaksikan saksi kunci
tipis memiliki harapan hidup karena sangat depresi berat oleh cinta yang tak terbalas.
Belum lagi janji yang dipegang teguh sebagi seorang muslim yang taat untuk menjadikan istri pertama dan terakhir menyatakan sedari awal sang tokoh Fahri tak berkehendak berpoligami. Situasilah yang memaksa.
Di sinilah kecerdasan sang pengarang yang berlatar belakang kuat pendidikan Islam
mencoba menjelaskan masalah jadi gamblang. Tanpa harus melukai pembacanya.

Karenanya saya sendiri jadi geli kenapa pihak film tidak membatasi usia penonton.
Kasihan adik-adik kita yang masih SD dan SMP yang ikut menonton pasti mereka bingung.
dibebani dengan masalah yang berat, poligami.

Bumbu romatisme film , entah sengaja atau tidak memang jadi sedikit mengganggu.
Sebut saja Maria yang main di kost laki-laki mahasiswa Indonesia.
Sesuatu yang absurb untuk dunia muslim tentunya, apalagi di Mesir yang ketat, juga sang tokoh yang sagat ketat menjaga diri mengikuti ajaran Islam.
Juga penggambaran tambahan yang berlebihan, kehidupan serumah dengan 2 istri.
Tokoh rendah hati yang selalu mengikuti sunnah nabi ini jadi lucu.

Harapan sang Pengarang agar pihak film untuk secara intim dan bersungguh-sungguh berjanji akan merawat Ayat Ayat Cinta selayak merawat anaknya sendiri ( di bagian, Ucapan Terimakasih ) patut dicermati.
Film yang konon menelenan biaya 7 milyard jangan sampai terjebak mengejar segmen penonton untuk meraup keuntungan untuk sehingga melunturkan pesan moral yang sarat nilai luhur agama yang ingin disampaikan oleh pengarangnya.

Namun backsound film ini dengan alunan-alunan suara Emha sungguh memukau.
Setting Mesir yang dibuat di India mungkin cukup terwakili namun cuaca panas yang diceritakan di buku sebagai suatu tantangan sang seorang cendekia muda, bahkan sempat membuat pingsan saat berjuang menimba ilmu luput kurang tergambarkan.
Perilaku nan indah semestinya dibangun lebih awal, semacam adegan memberi hadiah ke ibu Maria, semisal. Jangan lupa tokoh kita ini menawan banyak wanita bukan hanya tampannya yang ganteng tapi terutama oleh keagungan budi luhurnya.

Akhirnya,
Selamat menikmati Ayat-ayat Cinta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: