Posted by: sepanjanglempong | August 28, 2008

Salatiga : Keangkuhan masa silam rumah tua itu

Pernahkah anda mengunjungi kota kecil berhawa sejuk : Salatiga ?

Baru baru ini saya membaca buku kecil tipis berjudul : ” Salatiga,
Sketsa Kota lama ” dan ternyata banyak yang dapat kita pelajari dari kota ini.
( Ayah saya berasal dari sana sehingga saya masih terkenang,
di tahun 1970-an ketika saya masih kecil saya sering ke sana.)

Kota yang berketinggian 600 m di atas permukaan laut ini sungguh sejuk
dikelilingi oleh gunung gunung : Merbabu , Ungaran , Sindoro.
menjadi tempat strategis bagi pertemuan pedalaman Jawa dan Pantai Utara
sehingga Belanda membangun benteng Der Hersteller.
Selain sebagai kota militer dengan giatnya VOC memberlakukan tanam paksa
maka banyak perkebunan yang dibuka mengelili kota ini.

Di tahun 1910 saja sudah terdapat 77 perkebunan swasta.
Sebut saja : Ampel Gading, Asinan, Banaran, Getas, Jatirunggo, Gesangan
Golli, Sembir, Plaur, Tlogo , Gogodalem dan Kebonsari denagnb beraneka
tanaman semacam kopi, coklat, kareta, kapuk , pala , lada dan kina.
Kalau anda berkunjung di sekitar Salatiga beberpaa perkebunan ini masih ada.
Tak heran bila kemudian hal ini menarik orang-orang Eropa untuk bermukim.

Pertumbuhan kota demikian pesat di tahun 1905 tercatat
800 orang Eropa, 1300 Cina dan 80 Timur asing dengan total 12.000
Di tahun 1930 dengan total penduduk 55.000 itu warga Eropanya mecapai 4.338
dan campuran 2.035, Cina 1.837 dan Timur Asing 117.

Tak heran kemudian segala fasilitas di bangun di kota kecil ini.
Pembangkit listik tenaga air pertama di Jawa ada di Jelok, Tuntang dibangun 1920.
di Tahun 1921 air minum ledeng Senjoyo di bangun.
Kota ini kemudian ditata rapi bak kota di Eropa. Jalan jalan juga pertamanan.

Juga dilengkapi fasilitas olah raga seperti lapangan tenis.
Dibangun pula kolam renagn berukuran 20X15 bernama Badplaats Kalitaman
yang sirkulai airnya sangat being, debit air melipah dan airnya sejuk
berasala dari mata air asli.
( di usia 7 tahun saya pernah main ke sana, entah sekarang masih ada tidak ? )
Di sekitar kolam renang ini ada telaga kecil beranam Kali Gethek untuk wisata.

Gereja di bangun bernama Indische Kerk dan juga gedung rekreasi
bernama Sociteit Harmonie untuk dansa dansi.
Dua hotel dibangun di sekitar Tamansari bernama Berg en Dal dan satunya
Hotel Kalitaman. Masih ada lagi hotel bernama Hotel Bloommestein.
Sekolah, Kantor pos, kantor telepon dan telegraph, bank melengkapi fasilitas kota ini.
Bahkan disediakan gedung bioskop bernama Rex di jaman film bisu.

Mula-mula di dekat Tuntang Orang Eropa membangun rumah dengan pekarangan yang luas.
Dengan banyak berdatangan orang Eropa lain maka daerah ini berexpansi sampai ke daerah Beringin dan Banyubiru.
Pekarangan luas dan nonik-nonik Belanda dulu duduk di teras sambil minum teh, ah
Saya bisa membayangkan bila Leo mengatakan :
” Keangkuhan masa silam rumah tua itu… ”

Kalau jalan-jalan utama Salatiga jaman itu diperkeras dengan aspal,
maka jalan kampung diperkeras dengan tegel tegel batu.
Jalan kampung ini sangat berguna untuk kontrol petugas kesehatan
yang biasanya datang menggunakan jeep.
Penghijaun digalakkan dengan tanaman utama : kenari, mahoni, asam dan tanjung.

Di 1873 di Ambarawa sudah dibangun statiun kereta api kemudian dilanjutkan
statiun Kereta api ada di Tuntang 6 km dari Salatiga dan di Bringin 10 km
dari Salatiga. kedua statiun ini merupakan singgah untuk menuju Semarang melewati Kedungjati.
Saya masih ingat sewaktu kecil selalu naik bis yang namanya populer itu : ESTO.
Sesungguhnya ini perusahaan yang didirikan tahun 1930 merupakan
singkatan Eerste Salatiga Transport Ondernaming.
Mula-mula bis ini banyak melayani trayek Salatiag ke Bringin atau Ke Tuntang
karena di kedua tempat terdapat statiun kereta api tadi.
Bahkan dulu terdapat landasan pesawat terbang di daerah Ngebul.

Sebagai bangsa yang maju sektor kesehatan mendapat prioritas.
Dibangun rumah sakit di kota dan agak keluar kota di daerah Kopeng
dibangun Rumah Sakit Paru-Paru.

Kalau Bandung beroleh predikat Paris van Java, maka Salatiga disebut
Schoonste Stad van Midden Java alias kota teridah di Jawa Tengah
Mungkin kita juga bisa belajar dari Malang, Sukabumi, Magelang dll
kota-kota kecil yang dibangun era kolonial dulu

Kesimpulan saya sederhana :
sungguh arif dulu orang membangun sebuah kota
walau di jaman kolonial sekalipun …
mungkin kita mesti belajar dari kearifan masa lalu.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: