Posted by: sepanjanglempong | August 28, 2008

Menelusuri Petilasan Ki Ageng Pengging

Setelah mengantar anak wisata ke Ketep dan Selo,
saya sempatkan mencari pemakaman Ki Ageng Pengging.
Ingat perjalanan yang dilakukan mas Donny dan Bung Dwi,
meluncurlah saya ke daerah Bayudono daerah antara Boyolali dan Kartosuro.
di siang yang panas nian itu.Persis seperti legenda daerah ini memang kaya air.
Tersebut saat utusan Demak menuju Pengging,
kehausan dan diberikan air minum yang melimpah
sehingga daerah ini dinamai Banyudono.

Ketika sampai di Pengging dan sholat di sebuah mesjid
mulailah saya bertanya pada 2-3 orang dimanakah makam Ki Ageng Pengging.
Kesemuanya menjawab yang ada di belakang mesjid ini.
Menuju saya kesana hamparan kompleks pemakaman besar.
Setelah ketemu sang juru kunci diberitakan bahwa ini
adalah makam keluarga Yosodipura, seorang pujangga Keraton.
Kelirulah saya dan kembali ke mesjid
hingga seorang bapak yang tua bijak memberi arah yang benar.

Kembali ke arah datang saya susuri jalan kampung yang berkelok-kelok
hingga di kanan seberang sawah nampak pemakaman kampung.
Sejenak saya ragu dan turun dari mobil bertanya sopan kepada petani tua.
” Dimanakah pemakam Ki Ageng Pengging, Kek ? ”
Petani itu dengan hormat menyatakan
” Benar di sana. Di sanalah pemakaman Eyang kami semua. ”

Pemakaman kecil yang teduh itu sentralnya adalah makam Ki Ageng Pengging.
Beberapa orang nampak tertidur menunggui dan menjagai makam.
Setelah basa basi saya sampaikan maksud tujuan saya hanya sekedar ingin tahu.
Mereka menyambut ramah.
Saya terdiam sejenak sambil menatap kedua pintu kayu sederhana berwarna hitam itu.
Sebelum penunggu makam bertanya lanjut saya sudah pamit.
Saya juga tak tahu kenapa ingin segera pamit,
Apakah karena saya tak tega melihat sejarah keterpingiran ?

Tempat ini begitu sunyi. Sebuah Desa Kecil.
Di kiri makam nampak sililah keluarga ayah sang Jaka Tingkir ini.
Saya jadi ingat buku Walisanga dan Syeh Siti Jenar Seno Gumara Ajidarma
memberi catatan
” Di sini Ki ageng Pengging mengizikan Sunan Kudus membunuh Jasadnya
tapi bukan jiwanya …”
Tidak banyak yang tahu rupanya.
Tempat ini memang luput perhatian sesungguhnya menyimpan sejarah dan dialog panjang
baik itu masalah Ketuhanan maupun pertarungan transisi trah Majapahit ke Kerajaan Islam.

Bagaimana Kalau Jaka Tingkir tak sengaja diberikan asuh ke Ki Ageng Tingkir
lalu berguru ke Sunan Kalijaga dan mengabdi ke Demak untuk menjadi bintang
untuk kemudian mendirikan Kerajaan Pajang setelah Demak runtuh ?

Kebo Kanigoro saudara Ki Ageng Pengging lebih memilih menyingkir daripada masuk Islam, yang berarti juag menyingkir dari huru hara peralihan kekuasaan.
bertapa di kaki gunung dan wafat di Selo.

Ya tempat yang sepi
yang bahkan orang Pengging sendiri tak banyak tahu
sesungguhnya telah lama menjadi perdebatan sejarah.
Dialog Sunan Kudus dengan KI Ageng Pengging
bila kita sempat membacanya adalah filsafat yang sangat dalam
tentang Kehidupan itu sendiri dan Ketuhanan.

Di sana tidak hanya disemayamkan salah satu keturunan raja Majapahit terakhir
namun bukan hanya jasad yang ditanam di sini
juga keteguhan, ketulusan dan kejujuran
hingga akhir.

O,Kisanak …
Kedua putramu menempuh jalan berbeda
Ingat kau yang petani bijak,
tak memilih luar ataupun dalam, atas maupun bawah
ingat kau yang memilih menempuh jalan sunyi.
sunyi sekali di lembah kedua gunung itu.

Juru mudi tunjuk dengan acung Jarinya, arah kakiku melangkah
ADI

 

 

 

Setelah mengantar anak wisata ke Ketep dan Selo,
saya sempatkan mencari pemakaman Ki Ageng Pengging.
Ingat perjalanan yang dilakukan mas Donny dan Bung Dwi,
meluncurlah saya ke daerah Bayudono daerah antara Boyolali dan Kartosuro.
di siang yang panas nian itu.Persis seperti legenda daerah ini memang kaya air.
Tersebut saat utusan Demak menuju Pengging,
kehausan dan diberikan air minum yang melimpah
sehingga daerah ini dinamai Banyudono.

Ketika sampai di Pengging dan sholat di sebuah mesjid
mulailah saya bertanya pada 2-3 orang dimanakah makam Ki Ageng Pengging.
Kesemuanya menjawab yang ada di belakang mesjid ini.
Menuju saya kesana hamparan kompleks pemakaman besar.
Setelah ketemu sang juru kunci diberitakan bahwa ini
adalah makam keluarga Yosodipura, seorang pujangga Keraton.
Kelirulah saya dan kembali ke mesjid
hingga seorang bapak yang tua bijak memberi arah yang benar.

Kembali ke arah datang saya susuri jalan kampung yang berkelok-kelok
hingga di kanan seberang sawah nampak pemakaman kampung.
Sejenak saya ragu dan turun dari mobil bertanya sopan kepada petani tua.
” Dimanakah pemakam Ki Ageng Pengging, Kek ? ”
Petani itu dengan hormat menyatakan
” Benar di sana. Di sanalah pemakaman Eyang kami semua. ”

Pemakaman kecil yang teduh itu sentralnya adalah makam Ki Ageng Pengging.
Beberapa orang nampak tertidur menunggui dan menjagai makam.
Setelah basa basi saya sampaikan maksud tujuan saya hanya sekedar ingin tahu.
Mereka menyambut ramah.
Saya terdiam sejenak sambil menatap kedua pintu kayu sederhana berwarna hitam itu.
Sebelum penunggu makam bertanya lanjut saya sudah pamit.
Saya juga tak tahu kenapa ingin segera pamit,
Apakah karena saya tak tega melihat sejarah keterpingiran ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: