Posted by: sepanjanglempong | August 28, 2008

Kereta Api Uap : Riwayatmu Dulu

Bila anda memilih bepergian naik kereta api,
pernahkah terbayang tentang sejarah perkeretaapian di negeri kita ini ?

Sejak pembangunan jalur kereta pada tahun 1867 hingga 1931
tak kita sangka pemerintah Hindia Belanda telah memiliki ratusan lokomotif uap.
Sunguh mengherankan tenaga uap James Watt yang memulai revolusi industri
ini menarik loko yang beratnya puluhan hingga ratusan ton.

Desisan uapnya dan asap yang keluar dari loko sungguh
mengingatkan improvisasi di akhir lagu Di Deretan Rel Rel Leo
yang selalu menirukannya dengan suara : jes jes jes jess !
Suara peluit di kejauhan itu , apalagi diwaktu malam sungguh musikal dan khas.
Pantaslah Leo perlu memasukan unsur bunyi peluit kereta ini di DDRR.
Berapa bahan bakar yang dibutuhkan ?
Kayu ataupun batubara bisa 1 ton untuk mendidihkan 2 meter kubik air.

Loko loko berat ini didatangkan dari Eropa memakai kapal.
SJS atau Semarang Joanna Stoomtram-Maatchapp ij adalah perusahaan pertama
yang mendapat konsesi dari pemerintah Hindia Belanda.
Dalam buku Semarang Tempo Doeloe tempat utama pemberhentian
ada di Lawang Sewu ( Pintu Seribu ) gedung unik depan Tugu Muda itu
Lalu munculah SCS, OJS , SDS singkatan dari Semarang Cirebon ,
Oost Java dan Serajoedal Stoomtram-Maatchapp ij.
Utamanya memang mengangkut penumpang namun juga kadang mengangkut hasilbumi
maupun komiditi dagang seprti gulka dan beras . SJS ini bertahan cukup lama.
Bahkan sempat mengelola jalur Purwodadi Gundhi milik PGS.

Ambarawa kota kecil itu memang basis dan benteng militer Belanda di Jawa Tengah
sehingga pemerintah Belanda mewajibkan membangun
jalur kereta api melintasi kawasan ini ketika memberi izin
perusahaan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatcahppij
untuk mebangun jalur Semarang-Yogyakkart a.
Di tahun 1873 dibangun jalur Kedungjati Ambarawa
bersamaan dengan pembangunan jalur Semarang Jogya melalui Solo.
Di 1905 dibukalah jalur Ambarawa Yogyakarta melewati Magaleng,
kota yang juga merupakan pusat militer Belanda.
Wilayah berbukit inilah yang memaksa digunakan gigi
untuk membantu loko menanjak
Katanya loko itu berbahan bakar cukup mewah yakni kayu jati

Pesatnya perusahaan kereta api di Java ini memang sungguh
mengirikan bangsa di Asia lainya di era itu,
jadi kita bayangkan betapa betapa hiruknya kehidupan
di Jawa tempo jaman kolonial dulu.

Ketika kereta api uap ini masih jalan
para pencita kereta api dari luar negeri rela berhari hari
memelototi , mendata, mefoto loko loko tua ini,
Geoff Warren rela tinggal seminggu di garut tahun 1953
untuk menikmati loko uapa yang tiap hari melintasi Cikajang.
Demikian juga Rob Dickinson yang rela tiap tahun datang
jauh jauh dari Inggris untuk menikmati loko uap kesayangnyya
Rob dengan senang hati mau membiayai pemindahan sebuah loko
dari Cepu ke Ambarawan dan berburu loko loko tua yang masih
digunakan mengangkut tebu di Jawa

Kalau anda pengin melihat bisa luangkan datang ke TMII
tapi kalau mau merasakan yang masih jalan tentu mahal pergilah ke Ambarawa.
Namun karena kebutuhan alat transportasi
yang lebih cepat effisien dan nyaman makan kereta upa ini tergilas jaman.
dengan datangnya kereta diesel dari Amerika

Sungguh suatu kekayaan budaya yang tak pernah kita sadari bukan ?>


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: