Posted by: sepanjanglempong | September 9, 2008

Rerervoir, dr Kariadi dan Petempuran 5 Hari Semarang

” Bila suatu saat anda mampir di Semarang dan hendak pergi ke daerah Candi
dari Simpang Lima, anda dapat memilih menyusuri jalan pintas lewat Jl Pahlawan
Setelah melewati perempatan air mancur Undip dan terus menuju ke atas
anda akan menemui perempatan Siranda
adan akan sebaiknya terus menanjak menyusuri Jl Siranda
dan ketika jalanan hendak mendatar,
sebelumn petigaan Wungkal palingkanlah tatapan anda ke kanan : ” ( ADI )

***
RESERVOIR SIRANDA

Tapak bangunan ini berarda di pertigaan Jalan Diponegoro.
Keseluruhan bangunan berupa kubah dengan menara copula diatasnya.
Sebagai pintu masuk adalah dinding yang dipertinggi dan membentuk gerbang
dengan detail-detail berbentuk lengkung busur.
Diatasnya bertuliskan Reservoir Siranda serta angka tahun pembangunannya.
Pada kiri kanannya terdapat sayap dari batu berbentuk segitiga dengan ornamen
motif geometris.
Dinding sebagai pintu masuk kedalam kubah berjumlah dua buah yang
masing-masing menghadap Jalan Diponegoro dan Jalan Wungkal.

Pondasi bangunan dari batu kali. Bagian kaki bangunan diekspose berbentuk
pagar batu dari batu kali. Bangunan kubah tertutup dengan rumput kecuali pada
cupola.
Dinding entrance dari batu bata yang ditutup dengan plester. Pintu masuk
berambang atas lengkung dan dibuat serangkai dengan ventilasi diatas pintu. Daun
pintu bertipe ganda dengan panel krepyak kayu.
Pintu diapit oleh jendela yang disangga dan berambang atas lengkung. Daun
jendela berpanel krepyak kayu dengan daun ganda. Bangunan reservoir ini
dikelilingi oleh pagar pembatas dari besi dengan pintu gerbang dengan bentuk
dasar serupa dengan dinding entrance.

Bukaan pintu gerbang berambang atas lengkung archivolt trim dengan pintu
gerbang dari besi sebagai tambahan. Bagian cupola ditutup dengan atap kerucut
dengan bahan seng. Disekelilingnya terdapat jendela krepyak. Tapak bangunan
Siranda ini terletak di daerah yang berbukit-bukit serta dipisahkan oleh jalan
kecil yang ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi dengan Jalan Raya Diponegoro. Dari
kejahuan bangunan ini tidak tampak sebagai bangunan yang masif tetapi lebih
menampakan sebagai taman dengan bentuk kubah dan pintu gerbang yang berbentuk
unik.

Reservoir Siranda dibangun pada tahun 1912 dan difungsikan sebagai tempat
penampung air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Semarang. Selain itu bangunan
ini mempunyai nilai historis yang tinggi karena diyakini sebagai tempat tewasnya
Dr. Kariadi oleh tentara Jepang. Bermula dari tersebarnya kabar bahwa
penampungan air atau Reservoir Siranda akan diracuni oleh tentara Jepang sebagai
upaaya Jepang untuk menguasai Kota Semarang.

Dr. Kariadi,
seorang dokter muda di Semarang berusaha untuk menyelidiki kebenaran kabar
tersebut dengan memeriksa di sekitar Reservoir Siranda.
Namun di dalam baku tembak antara pejuang Indonesia dengan tentara Jepang
disekitar Reservoir Siranda, Dr. Kariadi terbunuh.
Kejadian ini merupakan penyulut Perang Lima Hari di Semarang. Nama Dr. Kariadi
sendiri kemudian diabadikan sebagai nama sebuah Rumah Sakit di Jl. Dr.Sutomo
Semarang.

***
PERTEMPURAN 5 HARI DI SEMARANG

” Bangunan itu tidak tinggi tapi tepat di tengah kota sekaligus menjadi ciri
khusus
kebanggaan warga Semarang : Tugu Muda,
di balik tugu sederhana ini menyimpan cerita perlawanan yang gigih “( ADI )

Bermula dari tentara Jepang yang masih bercokol di wilayah Semarang meskipun
Soekarno – Hatta atas nama Bangsa Indonesia telah mengumumkan kemerdekaan
Indonesia melalui Proklamasi. Pada hari yang sama berita proklamasi tersebut
tersiar juga siang harinya di Mesjid Kauman sebelum khotbah sholat jumat
dilaksanakan.

Bulan-bulan berikutnya tentara Jepang makin gelisah menghadapi keadaan yang
semakin genti setelah tertembaknya seorang pejabat kesehatan, Dokter Kariadi.
Tentara Jepang memutuskan bertindak dengan pertimbangan lebih baik menyerang
terlebih dahulu daripada diserang oleh para pemuda Semarang.

Tanggal 14 Oktober 1945, pergerakan tentara Jepang dari Markas Kido Butai di
Jatingaleh (sekarang digunakan sebagai markas RPKAD) sebagai awal Pertempuran
Lima Hari di Semarang dimulai.

Formasi siap tempur tentara Jepang adalah:
Pasukan tempur anak buah dari Mayor Yagi, sebanyak 472 orang
Kompi meriam dipimpin oleh Kapten Fukuda, sebanyak 66 orang
Kompi 9 dipimpin oleh Kapten Motohiro, sebanyak 155 orang
Kompi 10 dipimpin oleh Kapten Nakasima, sebanyak 155 orang
Pasukan cadangan, dipimpin oleh Kapten Yamada, sebanyak 101 orang

Pergerakan formasi tentara Jepang meyerang Kota Semarang sebagai berikut.
Mayor Yagi akan bertugas disebelah kiri dengan sasaran Markas BKR, Polisi, Jalan
Pemuda, sebelah kiri dan kanan jalan dan seterusnya memelihara keamanan di
daerah itu. Kompi 9 dan kompi 10 akan bergerak ke kanan dengan sasaran utama
penjara Mlaten, sekolah dagang dan terus menuju Demak.

Tentu saja pegerakan tentara Jepang ini mendapat perlawanan seluruh penduduk
Semarang. Semrang diberbagai tempat terjadi perlawanan hebat. Para pejuang
bersatu untuk tetap mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih sampai titik
darah penghabisan. Menurut catatan sejarah, pertempuran mereda pada tanggal 19
Oktober 1945. Oleh bangsa Indonesia, peristiwa itu dikenang sebagai peristiwa
Pertempuran Lima Hari di Semarang.

***
DR KARIADI

“Orang Semarang lebih mengenalnya sebagai nama rumah sakit ketimbang
sejarah perjuangan …” ( ADI )

Hanya Diundang ke Semarang untuk Dua Acara
Tak banyak publik di Semarang yang mengenal nama dokter Kariadi. Pahlawan yang
berjuang menyelamatkan Reservoir Siranda dari usaha pembunuhan masal dengan
racun oleh tentara Jepang itu kini hanya namanya yang diabadikan.

IRONISNYA, perjuangan dr Kariadi itu hanya dihargai sebuah medali bintang
kebaktian sosial yang didapat secara anumerta. Keluarga yang ditinggalkan pun
memilih hijrah ke Jawa Barat dan hidup sebagai warga biasa tanpa fasilitas dan
perhatian dari pemerintah.
Sedikit sekali peninggalan sejarah yang menceritakan perjuangan dr Kariadi.

Sampai-sampai Chusnul Hayati, dosen ilmu sejarah Undip, harus bekerja
ekstrakeras untuk mendapatkan catatan sejarah tentang dokter kelahiran
Singosari, Malang, Jawa Timur, itu.
Usahanya justru banyak tertolong setelah bertemu dengan Prof Dr dr Sri
Haryati, putri bungsu dr Kariadi. Haryatilah yang selama ini setia mengumpulkan
lembar demi lembar kliping yang memuat tentang ayahnya.

Memang hanya itulah yang bisa dilakukan untuk mengabadikan kenangan tentang
laki-laki yang pernah menjadi kepala keluarganya tersebut. Saat dr Kariadi gugur
dalam pertempuran dengan Jepang, Haryati masih sangat kecil.

Dia waktu itu baru berusia lima tahun. Haryati hanya bisa mengingat janji sang
ayah yang akan membelikan es krim saat pulang nanti. Sayang, janji tersebut tak
pernah dipenuhi karena Jepang telanjur membunuh ayahnya.

Kenangan yang tak kalah pedih dialami Kartini, putri sulung dr Kariadi.
Sebagai anak sulung, dialah yang paling ingat detik-detik menjelang kepergian
sang ayah untuk selamanya.
Masih jelas di ingatan Kartini, Sunarti -ibunya- meminta agar sang ayah
membatalkan niat untuk mengawasi- Reservoir Siranda yang waktu itu dikabarkan
akan diracun Jepang.
Tetapi, rupanya niat dr Kariadi tak bisa dibendung ehingga dia nekat menumpang
truk milik pemuda pejuang untuk bersama-sama menuju Reservoir Siranda.

“Sebenarnya, saya punya firasat dan mami sudah melarang. Karena itu, ketika
papi tak pulang-pulang, saya ikut gelisah dan khawatir terjadi apaapa. Ternyata,
memang benar,” ceritanya mengungkapkan kenangan pahit sebelum ayahnya gugur.

Meski menjadi putri tertua, Kartini yang sempat didampingi ayahnya selama
sebelas tahun mengaku tak punya banyak kenangan manis. Maklum, saat itu zaman
perjuangan dan semuanya hidup serbasusah.
Apalagi sang ayah yang memiliki dedikasi besar terhadap masalah kesehatan
masyarakat kecil memilih untuk tinggal berpindah-pindah tempat. Daerah yang
dipilih pun umumnya pedesaan dan terpencil. “Tidak banyak yang saya ingat karena
papi itu sibuk dan jarang di rumah. Sehingga kami jarang kumpul,” tutur Kartini.

Dokter Kariadi memang terkenal sebagai dokter yang gemar bereksperimen. Hampir
sebagian besar waktunya dihabiskan di laboratorium. Dia berhasil menemukan
minyak kenanga yang berguna untuk pengobatan.
Setelah pendidikan kedokterannya dirampungkan dalam waktu 10 tahun, dia hijrah
ke Irian Barat seorang diri. Dia meninggalkan ketiga putranya hanya bersama
Sunarti yang saat itu tengah merampungkan pendidikan kedokteran gigi.

Dalam pengabdiannya untuk masyarakat Irian Barat, dr Kariadi juga menemukan
spesies nyamuk yang menyebabkan penyakit malaria. Sayangnya, penemuan itu
diklaim sebagai penemuan pimpinannya. “Setelah mami lulus kuliah kedokteran,
kami menyusul ke Irian,” lanjut Kartini.

Masa kecil mereka sewaktu tinggal di Irian Barat masih diabadikan dengan rapi
dalam foto-foto keluarga. Gambar hitam putih itu tersimpan bersama file-file
tentang dr Kariadi yang dikumpulkan Sri Haryati.
Di antara ketiga kakak beradik keturunan dr Kariadi itu, hanya Sri Haryati
yang mewarisi ilmu ayahnya. Kartini mengaku tak sempat mengenyam pendidikan
tinggi karena hidup berpindah-pindah saat perang. Satu-satunya putra dr Kariadi
yang bernama Kartono memilih mendalami teknik dan meraih gelar insinyur.
“Saya juga ndak tahu, padahal kakek dan paman dari pihak papi juga dokter.
Tapi, anak cucunya kok tidak ada yang tertarik. Cuma saya yang mendaftar sekolah
dokter di Undip dan akhirnya diterima,” cerita Sri Haryati yang kini meneruskan
jejak sang ibu, mengabdikan diri di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

Meski begitu, profesi dokter justru diakui bukan cita-citanya sejak kecil.
selepas SMA, Haryati sebenarnya lebih tertarik untuk mempelajari ilmu
jurnalistik atau sejarah. Sayangnya, waktu itu belum banyak sekolah yang
menyediakan jurusan sesuai keinginannya. Karena itu, dia memilih sekolah dokter.
Selepas kepergian ayahnya, keluarga dr Kariadi mengaku tak pernah menggunakan
jasa sang ayah untuk memuluskan jalan. Diterimanya Haryati sebagai mahasiswa
Undip juga merupakan hasil kerja keras sendiri.
“Nggak ada yang tahu saya putra d. Kariadi. Penghargaan papi juga tidak ada.
Setelah papi meninggal, kami ini tak ada rumah. Semua kan milik dinas,” ujar
profesor di bidang penyakit dalam itu.

Haryati sebenarnya juga heran, sejak kepergian ayahnya, tak ada perhatian
sedikit pun dari pemerintah untuk keluarganya. Bahkan di Semarang, namanya bisa
dibilang tak dikenal.
Satu-satunya penghormatan untuk keluarga dr Kariadi hanya didapat menjelang
peringatan pertempuran lima hari di Semarang yang mengakibatkan sang ayah gugur
serta ketika RS dr Kariadi berulang tahun.

Saat itulah, baru pihak rumah sakit menghubunginya untuk memberikan sambutan
dalam rangka peringatan ulang tahun. Selain itu, tak ada seorang pun yang
tertarik untuk menggali informasi tentang ayahnya. Bahkan, sewaktu kuliah,
Haryati sedih ketika pemerintah memberikan kesempatan studi ke Jepang untuk
beberapa temannya.
Untungnya, sang ibu membiasakan anaknya hidup penuh perjuangan dan tak pernah
terlalu mengunggulkan jasa sang ayah. Karena itu, Haryati maupun Kartini tak
pernah menuntut hak sebagai putra pahlawan kepada pemerintah.

( dirangkumkan : dari berbagai sumber )

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: